Apakabar Tamu waktu, Ada yang tahu Ijtihad? itu sejenis roti, eh, salah. Ijtihad merupakan salah satu cara menentukan hukum dalam Islam terhadap suatu hal, jika di dalam Alqur'an dan Hadist tidak ada penjelasan hukumnya. Untuk lebih jelasnya lagi, simak makalah saya berikut, yang pernah saya persentasikan pada salah satu mata kuliah di kampus saya.

A. Pengertian Ijtihad
 Ijtihad bersal dari kata ijtahada, yang berarti bersungguh-sungguh, rajin, giat. Dan apabila kita meneliti makna jahada(                 ),  artinya mencurahkan segala kemmpuan.
Ijtihad menurut bahasa adalah mencurahkan semua kemampuan dalam segala perbuatan. Namun kata–kata ijtihad ini tidak dipergunakan kecuali pada hal-hal yang mengandung kesulitan dan mempergunakan banyak tenaga.[1] Saiyid Muhammad al-Khudloriy, dalam kitabnya Usulufiqih (hal.367), Dr.Wahbah Az-Zuhailiy dalam kitabnya Al-Wasith fi Ushulilfiqihil Isalmiy (hal.590), dan Imam Al-Ghozali dalam bukunya Al-Mustashfaa ( Juz 2 hal.350) memberi contoh:

  “Dia bersungguh-sungguh mencurahkan tenaga untuk mengangkat batu penggilingan itu”

 Kata ijtihad ini tidak boleh dipergunakan seperti pada kalimat :
  
 “Dia bersungguh-sungguh mencurahkan tenaga untuk menggangkat sebuah biji sawi”

 Menurut istilah ijtihad adalah usaha memaksimalkan dan melahirkan hukum-hukum syari’at dari dasar-dasarnya melalui pemikiran dan penelitian yang serius.[2]
Para ahli ushul fiqih memberikan banyak defenisi yang berbeda-beda. Barangkali definisi ijtihad yang lebih mendekati maksud ijtihad tersebut adalah defenisi dari Imam as-Syaukani dalam bukunya Irsyad al-Fuhul, beliau mendefinisikan ijtihad sebagai berikut:

 “Mencurahkan kemampuan guna mendapatkan hukum syara’ yang bersifat operasional dengan cara istibat (mengambil kesimpulan hukum)”


B. Dasar-dasar Hukum Ijtihad
Ketetapan adanya ijtihad merupakan pokok syari’at, dapat diketauhui dengan jelas di dalam ajaran agama, yaitu di dalam Al-qur’an dan hadist
Misalnya firman Allah:

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا
Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat”(Q.S An-Nisa:105)

Dari ayat di atas menunjukkan ketepatan ijtihad dengan jalan qiyas, demikian Dr.Wahbah yang mengutip dari Asysya—thibiy didalam al-Muwafaqot(hal.592). juga dalam firman Allah seperti

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
”sesungguhnya didalam semua itu berarti ada tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”

As-sunnnah juga  membolehkan melakukan ijtihad, diantaranya dalam sunnah yang dikutip oleh As-Syafi’I didalam Ar-Risalah (hal.494), meriwayatkan dengan sanad dari ‘Amr bin ’Ash, yang mendengar Rasul bersabda:

“(apabila seorang hakim menetapkan hukum) dengan berijtihad di dalam hal itu, kemudian ia benar, maka ia mendapat dua pahala, tetapi apabila ia menetapkan hukum, dengan berijtihad, dan ia salah, ia mendapat satu pahala saja”.

C. Syarat-syarat Mujtahid
Orang yang melakukan ijtihad disebut mujtahid. Dan untuk menjadi seorang mujtahid ini perlu syarat-syarat agar hasil ijtihadnya bisa di terima oleh umum. Syaat-syrat tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui Al-Quranul Karim
Seorang mujtahid harus mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang Al-qur’an. Misalnya:
a.       mengetahui sebab turunnya sebuah ayat
b.      mengetahui tentang nasikh dan mansukh


2.      Mengetahui As-sunnah
 Syarat mujtahid yang kedua adalah mengetahui as-sunnah. Yang dimaksud as-sunnah  adalah  ucapan perbuatan atau ketentuan yang diriwayatkan oleh nabi Muhammmad SAW. Seorang mujtahid juga harus menguasai:
a.       ilmu dirayah hadits
b.      mengetahui hadits yang Nasikh dan yang Mansukh
c.       mengetahui sebab wurud Hadits


3.      Mengetahui Bahasa Arab
Karena Al-qur’an dan Hadits berbahasa arab, maka seorang mujtahid harus menguasai bahasa arab dan ilmu-ilmunya dengan mendalam ( seperti nahwu,  sharaf, bayan, ma`anie dan badie). Sehingga dapat mengetahui yang  mana Kalam Sharieh, Kalam Dhaahir, Mujmal, haqiqat, Madjaz, `Aam, Khash, Muhkam, Mutasyabih, Mutlaq, Muqaiyad, Nash, Fahwaa,  Lahan, Fahmum dan sebagainya. Agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam mengartikan Al-Qur’an dan Hadist.  
 
 
4. Mengetahui Tempat-tampat Ijma’
Seorang mujtahid juga harus mengetahui hukum-hukum yang telah disepakati oleh para ulama, sehingga terjerumus memberi fatwa yang bertentangan dengan hasil ijma’ para ulama.

4.      Mengetahui Ushul Fiqih
Untuk menetapkan suatu hukum dalam islam, sudah pasti harus kita harus terlebih dahulu menguasai ilmu ushul fiqih. Salah satu ilmu ushul fiqih yang harus dikuasai seorang mujtahid adalah qias.

5. Mengetahui Maksud-maksud Syariah
Sesungguhnya syari’at islam diturunkan, untuk melindungi dan memelihara kepentingan manusia baik kepentingan material, spiritual, individual maupun kepentingan sosial. Syariat islam memelihara kepentingan tersebut, atas dasar keadilan dan keseimbangan tanpa melewati batas ataupun menimpa kerugian.

7. Mengenal Manusia dan Kehidupan Sekitarnya    
  Meskipun syarat ini belum dimasukkan dalam urutan syarat-syarat mujtahid oleh  para ahli ushul, namun hal ini merupakan hal yang pentin bagi seorang mujtahid, agar jangan sampai berijtihad dalam hal-hal yang kosong tiada berguna, tetapi ia benar-benar berijtihad dalam hal-hal yang terjadi di sekelilingnya.

8. Bersifat Adil dan Taqwa
Diantara syarat ijtihad yang disepakati oleh ahli ushul ialah; hendaklah para mujtahid itu bersifat adil, berkelakuan baik, takwa kepada Allah,menuntut yang haq dan tidak menjual nama agama atas kepentingannya, apalangi dengan kepentingan  orang lain.


C. Objek Kajian Ijtihad  
Bidang ijtihad (mujtahad fih) adalah semua hukum syara’ yang tidak ada pada dalil qadh’i. maksudnya, hal-hal seperti shalat lima waktu, zakat dan hukum-hukum syara’ yang sudah jelas di sepakati oleh ulama islam dimana hal-hal tersebut tersebut sudah berdasarkan dalil dalil yang pasti(qath’i), tidak termasuk kedalam ijtihad.
 
D. Pembagian Ijtihad
Ada beberapa pambangian ijtihad :
1. mahdi fadli allah membagi ijtihad menjadi dua bagian:
    a. Ijtihad mutblaq yaitu ijtihad yang melingkupi semua masalah hokum.
b, Ijtihad juz’I parsial. Karya ijtihad seperti ini adalah kajian mendalam tentang bagian tetrentu dari hukum, dan tidak mendalami bagian yang lain.
2. Muhammad Abu Zahrah dalam bukunya, ushul fiqh, membagi ijtihad dari segi bentuk karya ijtihadnya, kepada dua bagian:
a. Ijtihad istinbathi, yaitu kegiatan ijtihad yang berusaha menggali dan menemukan hukum dari dalil- dalil yang telah ditentukan.
b. Ijtihad tathbiqi, yaitu kegiatan ijtihad yang bukan untuk menemukan dan menghasilkan hukum.
3. Menurut Ibnu Subki, kegiatan ijtihad tathbiki (yang mnerapkan hasil ijtihad hasil ijtihad mujtahid terdahulu) di atas, terbagi atas dua:
a. Takhrij al- ahkam yaitu menerapkan hukum terhadap suatu kejadian yang baru degan cara menghubungkannya kepada hokum yang pernah ditetapkanoleh imam mujtahid terdahulu.
b. Tarjih yaitu usaha untuk menemukan kejelaskan sebagai pegangan dikemudian hari bagi para pengikut seorang imam mujtahid dengan memilah mana yang terkuat diantara pendapat yang berkembang diantara berbagai pendapat ulama mujtahid untuk diikuti dan dijalankan


Daftar Pustaka

Dr. Yusuf Qardhawi, M. Madani, Mu’inuddin Qodri, Dasar pemikiran hukum islam, Pustaka Firdaus: Jakarta, 1987
Al-Qardlawi, Yusuf, Ijtihad dalam Syari’at islam, bulan Bintang: Jakarta, 1987
Departemen Agama RI, Ushul Fiqih II,1986


[1] Yusuf Al-Qardlawy, Ijtihad dalam Syari’t Islam, hal. 1

[2] Muhammad Madani dkk, Dasar-dasar Pemikiran Hukum Islam, hal. 74

 
Top